Senin, 11 April 2016

Sist VS Bob

 Aku kembali melakukan hal nekat lainnya, ini seperti bukan aku ... ah benar ini bukan aku. Tapi hati kecilku berkata kenapa mesti merasa aneh dengan pilihanmu sendiri, seperti kau yang salah mengambil Keputusan saja!!!

Jangan menyesali Keputusan yang kau buat!!

Ah itu semua gerutuan sist, aku aneh menatapnya ... dia seperti bukan dirinya merutuki hal yang sudah dia putuskan ckckck aku bahkan tak mengerti akal pikirannya.

“bodoh!!!”

“bob!!! Jangan mengataiku bodoh.. aku tak menyukainya, aku hanya sedang pusing dengan keadaanku saat ini hahahaha” bob semakin jengah menatapku .

“aku rasanya menyesali tindakanku yang terburu-buru mengambil Keputusan, aku terkadang mempertanyakan kewarasan diriku” aku menggumam dengan lirih “aku juga heran, kenapa kau terburu-buru mengambil Keputusan ... ingat kau bukan lagi anak ingusan yang bisa-bisanya kabur jika ada masalah” bob melempar tatapan 1000 watt nya kepadaku.

“entahlah, ini hanya egoku bob ... aku memang kekanakan; tapi aku ingin bertanya satu hal padamu bob” aku dengan pasti menatap matanya

“bob, untuk apa bertahan jika kau bahkan tidak dibutuhkan??... semua punya sisi egoisnya masing-masing; akupun seperti itu pertahananku runtuh jika berbenturan dengan harga diri” aku tertawa dengan mirisnya sambil berlalu dengan gontainya.

“aku tak habis pikir sist, kau seperti tanpa emosi dari luar bahkan terkadang tampak seperti orang bodoh yang hanya mengikuti semua perintah orang tapi kau bisa egois seperti ini juga ... meninggalkan medan perang tanpa peringatan seperti anak kecil yang lari terbirit-birit dikejar tikus” bob dengan kekehannya berusaha menyamai langkahku merangkul pundakku dengan erat.

“aku memang bukan dalai lama yang bisa memberimu kedamaian dengan kata-kataku, juga bukan Mario teguh dengan kalimat motivasinya tapi percayalah kau tidak melewatinya sendiri ... hidup penuh dengan berbagai kemungkinan, aku yakin kau akan menemukan kesempatan lainnya; walau kutau itu akan sulit” bob menepuk-nepuk pundakku dengan pelan seakan dia ingin memeberiku kekuatan.

Tapi aku membencinya, ya aku membenci rasa kasihan yang ada di matanya... aku benci dikasihani.

aku hanya meninggalkan bob, menepis tangannya dan berlalu dengan cepat

Ya itulah sist, dia dengan teori sosial yang dia yakini, egois dan naif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar