Rabu, 13 April 2016

Percakapan, Aku dan Kata-kataku

Aku melihat buku catatan kau dan menemukan tulisan ini:
“suatu esai tentang kebosanan
Mungkin suatu hari aku akan lari,
Tapi lari itu seperti pecundang dan aku bukan pecundang
Aku tidak akan lari
Aku akan menatap matahari seperti hari yang bersinar terik
Terik yang menyakitkan
Silau dan dahaga
Matahari baru menyita waktu, seperti rasa yang tak pernah mati
Apa yang kutulis adalah manifestasi rasa sungkan
Aku yang berhenti menatap bulan dan terbakar dingin”

.
.

Aku begitu naif kala itu, lihat sekarang? Hari ini?
Kau tetap lah pecundang amatir, yang hanya selalu membual bahwa kau bukan pecundang.

Ironis

Karna pada akhirnya kau lari dengan ketakutan, tapi ketika di persimpangan kau menoleh dan terseok-seok menyusuri jalan kembali.

Jalan itu bahkan sekarang licin dan terjal tak seperti ketika kau menuruninya, sekarang menanjak dan sulit...

Pada akhirnya kau malah menertawakan dirimu sendiri, berlindung dibalik kata-kata ini.

Kenapa kau sangat takut menjadi pecundang? Ahh ... aku ingat semua manusia punya ego-nya masing-masing, tentu saja kau juga kan?

Bukankah aku juga manusia? Benar aku baru ingat aku juga manusia seperti kau, tidak bukan ... aku hanya orang yang kau ciptakan sebagai kambing hitammu.

Kau masih belum sadar?

Ini hanyalah pembicaraan satu arah antara kau dan aku

Tidak ada dua arah pembicaraan yang sebutkan, karna kau hanya diam.

Entahlah kusebut kau itu apa, aku hanya kau inginkan hanya saat kau terpuruk dan tidak punya jalan.
Kau selalu seperti ini, kau bilang kau punya bakat hah?? Kau sedang melawak.

Dari dulu kau tak punya bakat, kau hanya iri dan merasa dengan orang lain dan berusaha untuk bisa seperti mereka yang punya bakat alami.

Kau bodoh tentu saja, kau hanya memanggilku disaat seperti ini dan menyombongkanku pada saat kau butuhkan.

Pernahkah kau menginginkan aku untuk selalu berjalan beriringan denganmu? Menyapaku setiap hari bahkan ketika kau senang?

Kau tetap lupa padaku.

Aku memang bukan alami seperti yang lainnya, karna aku hanya datang ketika kau terus-terusan mendesakku untuk datang ... dulu kau selalu mengajakku diskusi setiap hari, bermain atau hanya bercerita.

Aku sempat berharap padamu, aku akan terus mendampingimu tapi akhirnya tetap saja aku hanya hadir saat kau jatuh.

Bukankah ini cerita membosankan? Tentu saja ini sangat membosankan ... tak bisakah kau mengerti jika kau ingin membuat sesuatu yang tidak membosankan, buatlah cerita yang manis seolah-olah kau orang lain jangan hanya menceritakan tentang dirimu. Siapa memangnya yang ingin mendengar tentang diri orang lain? Hah? Kau sangat lucu ... jika kau menjawab “aku selalu mendengarkan cerita orang dengan baik “  Itu hanya kau yang bodoh!!! Orang lain tak sama sepertimu yang hanya bisa mendengarkan mereka, kebanyakan justru mereka tak berhenti menceritakan tentang diri mereka.

Kau bodoh!

Ah maaf aku menjadi pribadi negatif saat ini, jangan salahkan aku !!! kau sendiri yang lari dan malah bersembunyi dibelakangku !!

Biasanya aku sangat positif, terlampau positif yang bahkan selalu melihatmu dari pojokan dengan berbinar sambil menghibur diri bahwa kau sedang mengejar mimpi lainnya. Mimpi yang dulu pernah kau ucapkan ingin menjadi orang hebat denganku, aku dulu hanya selalu mengeluh karna aku tidaklah sehebat yang lain tapi kau bilang hal itu bukanlah hanya tentang bakat tapi bagaimana kau mengasahnya dan berikrar bahwa kita akan sama-sama ada di sana, ditempat yang terang ketika orang berbinar melihat kita .. kau mengatakan hal mustahil kataku, tapi sinar matamu saat itu membuatku percaya bahwa aku juga bisa.

Tapi kau perlahan tak pernah memanggilku kau sibuk dengan orang lain, orang dari dunia asalmu yang kau sebut manusia... kau sibuk dengan drama-drama di folder komputermu, sibuk dengan media sosial yang menjengahkan. Kau beralasan ... kau buntu, tak tahu harus bagaimana denganku; kau mengatakan bahwa aku hanya ada pada kondisi prima ketika kau bersedih dan jatuh.

Kau. Hanya. Membual.

Lihat aku sekarang !!!!!!!! siapa yang tak berusaha saat ini? SIAPA?

Kau hanya pecundang bodoh yang bahkan lari dibalik kata-katanya sendiri tanpa mengatakan itu dia dan menyalahkan bahwa aku yang menulisnya.

Cih ... kau memang rubah licik!!

Aku kasar katamu??? Bukankah setiap hari kau mengumpat dalam hati? Hanya cangkangmu yang bersih dan licin,

Maaf aku memang tak bisa dikontrol saat ini, aku sedang emosi karna pada akhirnya kau memanggilku.

Tidakkah kau merindukanku?

Aku merindukanmu, rindu saat kau berpkir apa yang sebaiknya kau tulis, rindu saat kau bahkan tak mengerti apa yang telah kau tulis, dan rindu saat mengagumi dirimu sendiri “aku menulisnya?” dengan mata berbinar dan bulu tengkuk berdiri ... kau sedang melawak !! kau bahkan mengatakan aku sangat indah padahal kau menciptakanku dengan otakmu itu, kau tentu hanya  menulis tanpa berpikir sepertinya.

Tak usah menjadi orang lain saat denganku, aku tau kau tak bisa dan ingin membuat diksi-diksi suli, kalimat-kalimat indah romantis atau bahkan sebuah frasa mengagumkan yang terlihat pintar, tek perlu ... kau hanya perlu kata-kata sederhana yang mungkin kata orang berbelit-belit karna kau selalu bercerita memutar dan tak langsung pada inti; itu gayamu, aku mengerti.

Kau hanya harus menjadi seperti itu. Kau akan menjadikanku tamengmu pada orang-orang, aku tau. Aku memang melakukan tugasku seperti yang kau inginkan.

Apakah aku mengatakan terlalu jauh? Terlalu lugas?

Kau bukan pecundang sist, percayalah !

Inilah aku sist,


Bob, 14:33

13/04/2016





Tidak ada komentar:

Posting Komentar