Rabu, 13 April 2016

[Review] Korean Drama Page Turner

Udah lama banget ga nulis tentang review drama or film, J masih sekitaran korea juga sih kebanyakan malesnya daripada rajin sih buat nulisnya dan juga karna ga banyak drama yang bisa menggerakkan hati XDXD mungkin karna udah terlalu banyak nonton drama/film korea baru liat 1-5 ep kalau plotnya biasa aja dan alurnya udah ketebak suka ga mau dilanjut maka dari itu kebanyakan PR drama yang ga selesai.

Kali ini mau review drama yang tayang 3 episode di KBS2 sebenernya sayang sih kenapa Cuma 3 episode padahal nih darama oke banget ceritanya TT___TT castnya juga bagus secara kalau Kim so hyun yang maen gak ragu sama aktingnya !! TOP MARKOTOP J.

Page Turner dibintangi oleh Kim So Hyun sebagai Yoon Yo Seul, Ji Soo sebagai Jeong Cha Sik, dan Shin Jae Ha sebagai Seo Jin Mok.


Pas pertama nonton terus mikir apa sih “Page Turner “ ini soalnya banyak banget yang bilang bahwa drama mini series ini bagus dan pas nonton langsung ga kecewa sama jalan cerita dan cast nya.

Page turner adalah seorang pembalik halaman bagi seorang pianis biasanya pada pertunjukkan untuk musik yang komplek ada seorang page turner yang membentu pianis untuk membalik halaman.

Nah di episode awal diceritakan bahwa page turner adalah pembalik halaman seorang pianis dan juga Mereka membantu pertunjukan dari jarak paling dekat dan melakukan yang terbaik untuk membuat pertunjukan bersinar Mereka akan menjadi rekan terbaikmu. Dan page turner ini menceritakan tentang 3 remaja yang menjadi page turner bagi satu sama lainnya.


Episode pertama kita dibawa untuk mengenal bagaimana 3 remaja ini berhubungan satu sama lainnya dengan keadaan yang sama yaitu ada di titik rendah mereka, Yoo seul yang seorang piannis hebat kemudian kecelakaan, jin mook yang selalu berusaha kuat menjadi pianis yang hebat tapi tidak sejalan dengan prestasi yang selalu kalah dibanding yoo seul, kemudian ada Cha sik yang gegabah dalam kompetisinya yang menyebabkan cedera.

Yoon Yoo Seul

Seo Jin Mook

Jeong Cha Sik

Di episode kedua digambarkan bagaimana mereka putus asa khususnya yoo seul sama cha sik kalau jin mook lebih ke ngerasa bersalah kali yah udah nge doa yang enggak2 eh kejadian yoo seul nya buta. Yoo seul tertekan justru bukan karan dia buta tapi karna tekanan ibunya yang masih ingin yoo seul bermain piano padahal dia buta (lelah saya bu *ujar yoo seul) kalau cha sik merasa apa yang menjadi pegangan hidupnya hilang setelah ia divonis tidak boleh menjalankan olahraga lagi, mau bagaimana dia tak pandai dan satu2nya yang bisa dia lakukan adalah olahraga dan satu hal dia sayang banget sama ibunya.

Di episode ini kita bakal ngeliat bagaimana hidup mereka bertiga sangat berlawanan antara yoo seul yang menyerah main piano VS cha sik yang malah semangat pingin belajar piano VS jin mook yang merasa dirinya kurang berbakat main piano. 

Kontra banget antara kehidupan keluarga cha sik X yoo seul, tapi itu dia yang bikin menarik; yoo seul yang ingin berhenti main piano karna tertekan kemudian malah cha sik minta dia ngajarin main piano ... di sinilah yoo seul menjadi page turnernya cha sik tapi di sisi lain cha sik juga jadi page turner nya yoo seul yang membuat yoo seul bermain piano tanpa harus tertekan dengan permintaan ibunya dan tersenyum menikmati permainan.

Episode 3 ditunjukkan bagaimana seorang page turner melakukan tugasnya maksudnya bagaimana ketiga orang ini menjadi rekan,penyemangat dan membantu seorang penampil. Liat episode ini selalu terkagum sama aktingnya kim so hyun yang ajib, ekspresi dia pas main piano lagi tertekan dan ketika dengan senang hati beda banget dan keliatan sangat alami jin mook juga yang dengan usahanya bisa bermain piano walaupun tidak sebagus yoo seul dan jin mook, tapi dia berusaha sangat keras awalnya karna taruhan tapi dia mebuktikan bahwa usaha dan bakat bisa berjalan beriringan, usaha yang keras takkan membohongi kita. 




Dan jin mook yang hampir putus asa tapi melihat kesungguhan yoo seul yang memberinya pujian pada penampilannya juga memberikan kesan bahwa dia harus ingat bahwa dia bermain piano bukan untuk prestasi belaka. 

Ah banyak banget maknanya dari film ini, paling lucu liat adegan pas yoo seul ngira jin mook emaknya XDXD.

Suka juga dengan tingkahnya cha sik yang kadang emang berlebihan tapi selalu optimis dan sayang ibu <3 .

Walaupn bagi yang nyari genre romence pasti agak kecewa soalnya disini ga ngebahas soal romace XDXD walaupun ditunjukkin kedekatan cha sik x yoo seul atau yoo seul x jin mook tapi kenyataannya emang ga ada XD. Tapi ga bakal nyesel  buat yang nonton juga, selain ringan tapi bermutu :D.

Recommen banget nih drama sayang Cuma 3 episode.
Selamat nonton yah dan lihat bagaimana mereka menjadi page turner untuk satu dan lainnya !!


Percakapan, Aku dan Kata-kataku

Aku melihat buku catatan kau dan menemukan tulisan ini:
“suatu esai tentang kebosanan
Mungkin suatu hari aku akan lari,
Tapi lari itu seperti pecundang dan aku bukan pecundang
Aku tidak akan lari
Aku akan menatap matahari seperti hari yang bersinar terik
Terik yang menyakitkan
Silau dan dahaga
Matahari baru menyita waktu, seperti rasa yang tak pernah mati
Apa yang kutulis adalah manifestasi rasa sungkan
Aku yang berhenti menatap bulan dan terbakar dingin”

.
.

Aku begitu naif kala itu, lihat sekarang? Hari ini?
Kau tetap lah pecundang amatir, yang hanya selalu membual bahwa kau bukan pecundang.

Ironis

Karna pada akhirnya kau lari dengan ketakutan, tapi ketika di persimpangan kau menoleh dan terseok-seok menyusuri jalan kembali.

Jalan itu bahkan sekarang licin dan terjal tak seperti ketika kau menuruninya, sekarang menanjak dan sulit...

Pada akhirnya kau malah menertawakan dirimu sendiri, berlindung dibalik kata-kata ini.

Kenapa kau sangat takut menjadi pecundang? Ahh ... aku ingat semua manusia punya ego-nya masing-masing, tentu saja kau juga kan?

Bukankah aku juga manusia? Benar aku baru ingat aku juga manusia seperti kau, tidak bukan ... aku hanya orang yang kau ciptakan sebagai kambing hitammu.

Kau masih belum sadar?

Ini hanyalah pembicaraan satu arah antara kau dan aku

Tidak ada dua arah pembicaraan yang sebutkan, karna kau hanya diam.

Entahlah kusebut kau itu apa, aku hanya kau inginkan hanya saat kau terpuruk dan tidak punya jalan.
Kau selalu seperti ini, kau bilang kau punya bakat hah?? Kau sedang melawak.

Dari dulu kau tak punya bakat, kau hanya iri dan merasa dengan orang lain dan berusaha untuk bisa seperti mereka yang punya bakat alami.

Kau bodoh tentu saja, kau hanya memanggilku disaat seperti ini dan menyombongkanku pada saat kau butuhkan.

Pernahkah kau menginginkan aku untuk selalu berjalan beriringan denganmu? Menyapaku setiap hari bahkan ketika kau senang?

Kau tetap lupa padaku.

Aku memang bukan alami seperti yang lainnya, karna aku hanya datang ketika kau terus-terusan mendesakku untuk datang ... dulu kau selalu mengajakku diskusi setiap hari, bermain atau hanya bercerita.

Aku sempat berharap padamu, aku akan terus mendampingimu tapi akhirnya tetap saja aku hanya hadir saat kau jatuh.

Bukankah ini cerita membosankan? Tentu saja ini sangat membosankan ... tak bisakah kau mengerti jika kau ingin membuat sesuatu yang tidak membosankan, buatlah cerita yang manis seolah-olah kau orang lain jangan hanya menceritakan tentang dirimu. Siapa memangnya yang ingin mendengar tentang diri orang lain? Hah? Kau sangat lucu ... jika kau menjawab “aku selalu mendengarkan cerita orang dengan baik “  Itu hanya kau yang bodoh!!! Orang lain tak sama sepertimu yang hanya bisa mendengarkan mereka, kebanyakan justru mereka tak berhenti menceritakan tentang diri mereka.

Kau bodoh!

Ah maaf aku menjadi pribadi negatif saat ini, jangan salahkan aku !!! kau sendiri yang lari dan malah bersembunyi dibelakangku !!

Biasanya aku sangat positif, terlampau positif yang bahkan selalu melihatmu dari pojokan dengan berbinar sambil menghibur diri bahwa kau sedang mengejar mimpi lainnya. Mimpi yang dulu pernah kau ucapkan ingin menjadi orang hebat denganku, aku dulu hanya selalu mengeluh karna aku tidaklah sehebat yang lain tapi kau bilang hal itu bukanlah hanya tentang bakat tapi bagaimana kau mengasahnya dan berikrar bahwa kita akan sama-sama ada di sana, ditempat yang terang ketika orang berbinar melihat kita .. kau mengatakan hal mustahil kataku, tapi sinar matamu saat itu membuatku percaya bahwa aku juga bisa.

Tapi kau perlahan tak pernah memanggilku kau sibuk dengan orang lain, orang dari dunia asalmu yang kau sebut manusia... kau sibuk dengan drama-drama di folder komputermu, sibuk dengan media sosial yang menjengahkan. Kau beralasan ... kau buntu, tak tahu harus bagaimana denganku; kau mengatakan bahwa aku hanya ada pada kondisi prima ketika kau bersedih dan jatuh.

Kau. Hanya. Membual.

Lihat aku sekarang !!!!!!!! siapa yang tak berusaha saat ini? SIAPA?

Kau hanya pecundang bodoh yang bahkan lari dibalik kata-katanya sendiri tanpa mengatakan itu dia dan menyalahkan bahwa aku yang menulisnya.

Cih ... kau memang rubah licik!!

Aku kasar katamu??? Bukankah setiap hari kau mengumpat dalam hati? Hanya cangkangmu yang bersih dan licin,

Maaf aku memang tak bisa dikontrol saat ini, aku sedang emosi karna pada akhirnya kau memanggilku.

Tidakkah kau merindukanku?

Aku merindukanmu, rindu saat kau berpkir apa yang sebaiknya kau tulis, rindu saat kau bahkan tak mengerti apa yang telah kau tulis, dan rindu saat mengagumi dirimu sendiri “aku menulisnya?” dengan mata berbinar dan bulu tengkuk berdiri ... kau sedang melawak !! kau bahkan mengatakan aku sangat indah padahal kau menciptakanku dengan otakmu itu, kau tentu hanya  menulis tanpa berpikir sepertinya.

Tak usah menjadi orang lain saat denganku, aku tau kau tak bisa dan ingin membuat diksi-diksi suli, kalimat-kalimat indah romantis atau bahkan sebuah frasa mengagumkan yang terlihat pintar, tek perlu ... kau hanya perlu kata-kata sederhana yang mungkin kata orang berbelit-belit karna kau selalu bercerita memutar dan tak langsung pada inti; itu gayamu, aku mengerti.

Kau hanya harus menjadi seperti itu. Kau akan menjadikanku tamengmu pada orang-orang, aku tau. Aku memang melakukan tugasku seperti yang kau inginkan.

Apakah aku mengatakan terlalu jauh? Terlalu lugas?

Kau bukan pecundang sist, percayalah !

Inilah aku sist,


Bob, 14:33

13/04/2016





Senin, 11 April 2016

Sist VS Bob

 Aku kembali melakukan hal nekat lainnya, ini seperti bukan aku ... ah benar ini bukan aku. Tapi hati kecilku berkata kenapa mesti merasa aneh dengan pilihanmu sendiri, seperti kau yang salah mengambil Keputusan saja!!!

Jangan menyesali Keputusan yang kau buat!!

Ah itu semua gerutuan sist, aku aneh menatapnya ... dia seperti bukan dirinya merutuki hal yang sudah dia putuskan ckckck aku bahkan tak mengerti akal pikirannya.

“bodoh!!!”

“bob!!! Jangan mengataiku bodoh.. aku tak menyukainya, aku hanya sedang pusing dengan keadaanku saat ini hahahaha” bob semakin jengah menatapku .

“aku rasanya menyesali tindakanku yang terburu-buru mengambil Keputusan, aku terkadang mempertanyakan kewarasan diriku” aku menggumam dengan lirih “aku juga heran, kenapa kau terburu-buru mengambil Keputusan ... ingat kau bukan lagi anak ingusan yang bisa-bisanya kabur jika ada masalah” bob melempar tatapan 1000 watt nya kepadaku.

“entahlah, ini hanya egoku bob ... aku memang kekanakan; tapi aku ingin bertanya satu hal padamu bob” aku dengan pasti menatap matanya

“bob, untuk apa bertahan jika kau bahkan tidak dibutuhkan??... semua punya sisi egoisnya masing-masing; akupun seperti itu pertahananku runtuh jika berbenturan dengan harga diri” aku tertawa dengan mirisnya sambil berlalu dengan gontainya.

“aku tak habis pikir sist, kau seperti tanpa emosi dari luar bahkan terkadang tampak seperti orang bodoh yang hanya mengikuti semua perintah orang tapi kau bisa egois seperti ini juga ... meninggalkan medan perang tanpa peringatan seperti anak kecil yang lari terbirit-birit dikejar tikus” bob dengan kekehannya berusaha menyamai langkahku merangkul pundakku dengan erat.

“aku memang bukan dalai lama yang bisa memberimu kedamaian dengan kata-kataku, juga bukan Mario teguh dengan kalimat motivasinya tapi percayalah kau tidak melewatinya sendiri ... hidup penuh dengan berbagai kemungkinan, aku yakin kau akan menemukan kesempatan lainnya; walau kutau itu akan sulit” bob menepuk-nepuk pundakku dengan pelan seakan dia ingin memeberiku kekuatan.

Tapi aku membencinya, ya aku membenci rasa kasihan yang ada di matanya... aku benci dikasihani.

aku hanya meninggalkan bob, menepis tangannya dan berlalu dengan cepat

Ya itulah sist, dia dengan teori sosial yang dia yakini, egois dan naif.