Rabu, 10 Februari 2016

TENTANG MATA, dan AKU

Rasanya semua berbeda akhir-akhir ini, dulu aku menjalananinnya dengan keinginan yang ada pada diriku sendiri tapi kini aku sadar

Semua tak berjalan semudah itu,

Aku mungkin masih tak dewasa, hanya manusia yang terkungkung di dalam tubuh ini
Temanku pernah berkata,

“Kau ingin matamu sembuh?” Tanya suatu siang

“tentu” jawabku dengan semangat, tak lupa aku menambahkan tapi tidak dengan obat macam-macam yang hanya berakhir dengan pengharapan

Lalu dia berujar “bukan, tenang saja ini bukan seperti yang kau duga semacam obat ataupun operasi mata”

“benarkah???” selaku dengan penasaran

“tapi kamu janji harus menerimanya dengan lapang dan jangan membantah!!!” pesannya tak kalah tegas.

“oke, aku akan menerimanya.. katakanlah” ujarku dengan santainya.

“kau cenderung ingin melakukan semua hal sendiri kan? Kau merasa bisa melakukan semua hal sendiri” ucapnya dengan hati-hati

“what do you mean? “

“iah artinya kamu tidak membuka diri kepada orang lain dan cenderung berfokus kepada sesuatu hal sendirian, yah hal semacam itulah”

“aku??? Aku memang kurang terbuka, aku akui  tapi tentang semua hal sendiri ... sebentar kau dapat darimana teori seperti ini? Ada jurnal ilmiah? Artikel kesehatan ? atw jurnal psikologis yang menjelaskannya? Aku memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

“slow down sis!!! Nah its you!! Kamu bahkan tidak mendengarkanku ckckck bahkan semua pembicaraan ini belum berakhir .. kamu sudah segitu curiganya padaku. Kau berlebihan !!”

“ahh maaf, kebiasaan ... aku hanya tak biasa menelan mentah-mentah teori asing “ aku terkekeh malu mengakui apa yang ia katakan ada benarnya.

“oke aku berkacamata minus tinggi, aku tidak terbuka, dan ingin semua sendiri, nah its me”

“dont be selfish dude, kamu hanya menutup diri dan menyebabkan tekanan pada syaraf matamu, itu yang aku dengar dari seorang peneliti ... aku memang tak bisa menunjukkan jurnal ilmiahnya padamu karna peneliti ini baru melakukan proses analisis dan percobaan terhadap beberapa penderita” dia berujar dengan santai.

“begitukah? Membuka diri? Ah tak semudah itu .. itu sudah menjadi bagian diriku “ aku menggerling dan mengusap tengkukku.

“itu .. itu .. kau bahakan tak mendengarkan saranku dan berkelit dengan alasan”

“tapi itu tak mungkin satu-satunya faktor mataku minus, semua hal punya penjelasan logisnya sista” aku kembali berkelit dengan lihainya.

“oke terserah padamu!!!!”

Dan semua pembicaraan berakhir  dengan pertanyaan, bisakah mataku sembuh dengan aku membuka diri ?


Semudah itu?

1 komentar:

  1. Aku baru tau lho tentang perkataan temenmu itu. Mungkin kalau sembuh mah ga, kalau ga bertambah minusnya mah bisa aja.. Di coba dulu yuk, aku juga minus nih, :))

    BalasHapus