Minggu, 07 September 2014

[Notes] - masih tentang SIST & BOB

Dia memandangiku dari jauh, dia terlihat lebih gelap aku bahkan hampir tidak bisa melihatnya dari kejauhan; tetapi dia memanggilku dengan keras dan menyuruhku datang mendekat.

sist kau kemana saja?, kau selalu menghiraukan panggilanku akhir-akhir ini bahkan tak jarang selalu berpura-pura tak melihatku “ ujarnya dengan muka memelas sambil menyuruhku duduk dengan isyarat mata.

ahhh bob, bukan seperti itu” aku tertawa dengan canggung didepannya; aku memang kehilangan control diri akhir-akhir ini hingga bob pun berkata seperti itu.

lihat dirimu sist... kau seperti orang yang kehilangan arah, matamu selalu kosong” bob menatapaku tajam.

“benarkah??? Aku terlihat begitu??” Ah bob hanya kau yang menyadarinya.

“ahh kau kaget bahwa aku menyadarinya kan? Memang hanya akulah yang sadar ... kalau bukan aku lalu siapa?” Bob tersenyum seakan apa yang aku pikirkan sama dengan apa yang dia perkirakan, dan sayangnya memang begitu.

“aku hanya sedang berpikir tentang aku yang tidak bertanggung jawab” aku mengeluarkan apa yang sebenarnya kurisaukan.

bertanggung jawab? Apakah kau berbuat sesuatu yang salah? Ah aku tahu ini hanya perasaanmu yang terlalu sensitif??” Bob dengan serius menatapku, yang balik kutatap dengan lebih serius dalam diam.

kau diam dan berarti itu benar ... sudahlah jangan terlalu serius menghadapi hidup, hidup harus dijalani dengan bahagia; hanya itu” Bob menyeringai dengan tawa khasnya, “rasanya itu bukan aku”.

ah aku selalu begini bob, jika aku tak sanggup melakukannya aku malah lari; bukankah itu kekanakan? Rasanya ini memang tidak benar .. percayalah bob dulu aku tak begini” aku menyeringai dengan kakunya sambil menghela nafas yang berat.

ehm, kau memang seperti itu ... kau memang kekanakan terkadang gak percaya pada keyakinan diri sendiri dan malah lari; ya seperti itulah kamu sist tapi setiap orang memang memiliki kelemahannya masing-masing apapun itu, ya itu kelemahan kamu” bob hanya menatap langit dengan tenangnya sambil berbicara, “rasanya aku tidak pernah seperti itu”.

Aku juga menatap langit sambil menggumam “jika aku tak berada ditempat yang sama seperti sekarang, akankah semua berbeda? Ah pikiran itu selalu terlintas di benakku bob, bukankah itu konyol selama 3 tahun terakhir atau mungkin selama belasan tahun ini, itu yang selalu kupikirkan ketika aku merasa buruk”

“yah aku tentu tahu, kau selalu mengatakannya hampir setiap kita bertemu ... itu Cuma pembelaan alami pikiranmu sist, tapi aku akan mengatakannya juga entah keberapa kalinya; dimanapun kau siapapun kau menjadi, kau akan tetap menjadi kau bukankah ini tempat yang berbeda yang kau janjikan bahwa kau akan berubah dan sekarang apa yang kau katakan? Kau ingin tempat lainnya? Tak ada lagi yang lainnya” bob tetap menegakkan kepalanya ke langit seakan mungkin aku ini tak ada di sampingnya, “aku rasa aku tak pernah bisa sepertinya berbicara tanpa pernah merasa ter-provokasi, bahkan aku tak pernah aku sepenuhnya”

“inilah caranya bertahan hidup bob, kau harus jadi ikan tanpa pernah bisa hanyut ... kalau mungkin kau bisa jadi ikan salmon yang menantang arus; seperti itulah hidup yang sesungguhnya” bob kemudian menatapku dengan senyum mantapnya dengan mata besarnya.

“aku memang selalu menjadi aku bob, sebanyak atau sesering apapun aku meminta penadapatmu aku tetap berdiri diatas kakiku sendiri” aku terkekeh pada akhirnya mengakhiri sesi kali ini dengan tawa aneh.

“seperti itulah kamu sist; tak ada yang dapat menanganimu” tawa bob juga pecah pada akhirnya.

Perbincangan kami memang selalu berat, karna memang inilah kami ada untuk saling ada ketika dibutuhkan; itu tidak setiap hari bahkan kami hanya bertemu dalam dunia yang apa saja bisa terjadi kami dihidupkan hanya lewat kata-kata dan kalimat. Seperti itulah aku dan bob, kisah yang tak berujung juga tak berawal.