Sabtu, 18 Agustus 2012

Si malang di balik cermin - #Notes


” Bodoh

Egois

Pecundang

Pengecut”

Umpatku padanya … 

dia hanya mencibir dan berkelit…

“maaf untuk itu aku tidak tahu mengapa aku melakukannya… itu hanya terjadi begitu saja” ucapnya dengan polos dan mata terpejam.

“Kau selalu seperti ini, menghindari kenyataan. bagaimana kamu menghadapi hidupmu di masa depan? aku tak yakin kau bisa bertahan dengan rasa bersalahmu” cecarku dengan emosi.

Dia hanya mematung di depanku, diam dan merenung. Aku berada disampingnya hampir sepanjang hidupku, aku tau sifatnya bahkan setiap raut emosi wajahnya begitulah aku mengenalnya. selama ini aku khawatir dengan hidupnya yang kadang seperti bukan miliknya, hanya menuruti setiap kata orang lain tapi masih takut menghadapi orang lain yang mencibirnya.

“hey, mengapa kamu begitu memikirkan apa kata orang? datanglah dan lihat apa yang akan mereka perbuat padamu? apa kau akan diabaikan, dicibir, atau apapun yang kau kira… bahkan kau tidak mencobanya!!!!!! aku membenci sifat kekanakanmu itu”.

Aku bergeming didepannya, rasanya ingin kucakar wajah itu, ingin kuguncang bahunya tapi itu sia-sia pada akhirnya aku yang juga sakit. 

“aku tahu bahwa keputusanku akan membuat orang lain marah dan membenciku tapi aku merasa itu akan baik saja , di masa lalu aku selalu dikecewakan oleh orang lain tapi aku tak pernah menyela mereka tak pernah mempertanyakan hanya berkata “tak apa” dan itu terjadi tidak hanya sekali pada akhirnya semua akan kembali baik-baik saja, kenapa aku tak boleh membuat keputusan itu sedang orang lain dengan mudah melakukannya?” keningnya berkerut dan matanya tajam menatapku mempertanyakan keegoisan orang lain.

Dia selalu menang kalau berdebat soal ini. Aku tahu dia selalu ketakutan menemui orang lain yang sudah ia kecewakan, bahkan tanpa sebab yang jelas selalu ia hindari. Hari ini rencana orang lain sudah digagalkannya, bagaimana aku menanggungnya? bagaimana aku menangani kekacauan yang ditimbulkannya?. Aku memberanikan diri membuat sebuah rencana dengan teman-temannya agar dia bisa menjalani hidup yang baik, kegiatan sosial bisa jadi solusi untuk karakternya yang agak tertutup. Tapi tiba-tiba ia datang dengan sebuah masalah, ketakutannya, panic disordernya kambuh, tiba-tiba ia berkata “aku tidak bisa” dan berdiri di depanku untuk kesekian kalinya dan mengeluh. 

Kuturunkan nada suaraku dan berkata : “Kau tau orang lain mungkin akan membencimu, mengatakan bahwa kau orang yang plin-plan tak punya visi hidup jika kau bersikap seperti ini terus” 

“aku tau, akupun muak dengan diriku” ucapnya dengan suara bergetar…
dia muak denganku?…. ” pikirku dalam hati.

Aku hanya takut jika orang lain mengabaikanku … 
aku berlalu meninggalkannya dalam diriku.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar