Selasa, 27 Desember 2011

[Puisi] Bumi pertiwi, ketika larut menuju fajar


Ketika waktu berhenti berujar

Di sanalah aku kan berakhir.. .

Dimana aku kan mencari nafas?

Ketika hidup sudah tak pantas

Tinggallah nafas yang tersengal diantara luapan derita

Derita yang meluap diatas nama sunyi dan senyap..

Hanya tangis dan airmata kering yang tersisa di senja berkabung itu,

Untuk sebuah derita yang tak kumengerti..

Tangisan senja itu membuatku terhenyak

Airmata yang kering itu mengempaskanku dari pikirku

Mata yang sembab itu berujar pada bulir-bulir embun..

Berbicara dengan angin malam..

Berucap dengan rintihannya pada kegelapan senja..

Tentang rasa, asa, dan nada yang menghimpitnya hingga kelopak matanya membesar , mengkerut dan menghilang...

Kala itu tetesan airmata sudah mengering

Kala itu hati yang berduka telah sirna

Kala itu tak ada jiwa yang menghibur

Ketika itu pula aku tersadar di gelapnya larut malam
dalam balutan keheningan yang mencekam..

Di putaran dosaku...

Di tengah badai khilafku

Aku terduduk diam di sujudku

Bumi pertiwi, ketika larut menuju fajar




Tidak ada komentar:

Posting Komentar