Rabu, 22 Juni 2011

[Sinopsis] turtles can fly


TURTLES CAN FLY merupakan film Iran pertama tentang perang di Iraq masa Invasi Amerika dibawah Presiden George W. Bush. Nah, film ini pernah di tayangkan di salah satu stasiun nasional kita dari sana aku udah jatuh cinta ama film ini karna film ini menyajikan pengajaran kehidupan secara filosofis tanpa ada kesan menggurui penontonnya. Ini kan  hal yang jarang kita bisa dapat dari film-film pada umumnya.

       'Turtles Can Fly' menyajikan sebuah pandangan : film anak-anak yang penuh humor, manisnya adegan jenaka anak-anak, sekaligus film perang yang paling mengerikan.
Dalam film ini memang tidak ada adegan hunjaman peluru menembus batok kepala, seperti pada film Saving Private Ryan, atau semburan darah, potongan tubuh seperti di film Kingdom of Heaven, atau adegan sadis yang lazim dalam film-film perang pada umunya. Sebaliknya 'Turtles Can Fly' adalah sebuah film sederhana, namun secara psikologis ini memberikan dampak psikologis yang dalam dan sangat menyentuh. Meski Badan sensor film memberikan label genre 'bimbingan orang tua', namun film ini bukan film anak-anak, melainkan  film ‘dewasa’ seharusnya.

'Turtles Can Fly' menyajikan peperangan yang sedemikian kuatnya berdampak pada psikologis seseorang. Ya, peperangan paling banyak menyengsarakan korban tak berdosa, terutama anak-anak. Dan  film ini menyajikan akibat perang 'dimata anak-anak'. Sehingga saat kita menonton, secara tidak sadar kita akan digiring oleh sang sutradara 'berpikir dan berlogika secara anak-anak pula'. Inilah keistimewaan yang dimiliki film  Iran yang sudah menjadi satu ciri khas, seperti dalam film Children of Heaven.

Dimulai dengan adegan gadis kecil menjatuhkan diri dari sebuah tebing yang curam, film ini bercerita dengan latar belakang sebuah desa 'Iraqi Kurdistan' di perbatasan
Iran dan Turkey. Penduduk desa yang dalam suasana perang lebih mementingkan berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.
Dengan latar tahun 2003 dibawah invasi Amerika, film ini menggambarkan terobsesinya orang-orang dengan berita Internasional yang didapat dari Satelit untuk mendapatkan informasi rencana Amerika kedepan dalam 'menyelamatkan' Iraq.

Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun atau tepatnya ' leader' bagi sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama 'Satellite' karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi 'penerjemah berita' bagi penduduk desa disana, karna dialah satu-satuya orang di desa itu yang bisa berbicara bahasa inggris. Kemudian Satellite juga menerima job pembersihan 'ranjau darat' di daerah itu. Satellite merasa terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus, yang juga menerima job pembersihan ranjau yang belum menjadi 'anggota serikat pekerja anak-anak' dibawah pimpinan Satellite. Anak cacat itu bernama Henkov yang juga adalah korban ranjau darat, sehingga kedua tangannya putus. Meski cacat Henkov rupanya ahli sekali menjinakkan ranjau.



Dilain pihak Satellite naksir berat dengan adik perempuan Henkov, Agrin yang misterius dan cantik. Kemudian Satellite juga menemukan kemampuan  Henkov meramal , yang kemudian disadarinya bahwa kemampuan Henkov lebih akurat ketimbang propagandanya CNN.



Henkov dimata orang lain mempunyai 2 orang adik, yang perempuan Agrin dan adik laki-laki yang masih berumur 1tahun lebih, Rega dan ia buta sejak lahir. Kemanapun, mereka selalu bertiga. Dan si kecil Rega selalu dalam gendongan Agrin, sesekali digendong oleh Henkov yang meski 'tanpa tangan' tapi ia bisa menggendong si kecil.



Agrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq, dalam saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Oleh pengungsi lain anak dalam gendongannya itu dikira adiknya. Kehidupan serba sulit, mengungsi dengan anak dan saudara laki-laki yang cacat. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, ia berpikir mampukah ia merawat rega anaknya? Dan ia mengurungkan niat itu. Adegan ketiga anak kecil itu kerap memancing rasa haru.

Rupanya perang zaman sekarang juga masih menggunakan jalur-jalur propaganda atau bahasa halusnya 'informasi' : "We are here to take away your sorrows!" "Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!" itulah bunyi leaflets yang dijatuhkan dari helikopter pasukan Amerika. Entah dalam kejadian nyata isi leaflets bunyinya begitu atau tidak, namun dengan melihat gaya American dan sikap Bush yang sedemikian, mungkin saja isi leaflets-nya begitu. Dan betapa senangnya masyarakat suku Kurdi menerima kabar bahwa keberadan mereka 'dibela' dengan akhir Saddam Hussein diturunkan dari tahta kepresidenannya. Pesan-pesan itu membawa harapan perang segera berakhir.



Kabar baik dari pasukan 'hero' itu tidak ada dampaknya ibu-muda Agrin, ia tetap tertekan, terlebih ketika ia memikirkan bagaimana nanti Rega tumbuh menjadi besar, apa pandangan orang terhadapnya. Berkali-kali Agrin mengemukakan rencananya agar meninggalkan Rega, dengan harapan bisa 'diambil/dipelihara orang lain', namun Henkov kakaknya selalu melarang, karena Henkov sangat mengasihi anak itu.

Satellite yang menyukai Agrin berusaha menarik perhatiannya dengan berusaha menyembuhkan mata adiknya (yang ia sangka seperti itu) dengan berbagai cara, tetapi agrin tetap tak peduli bahkan Agrin tak peduli dengan adiknya dan hal itu membuat Satellite bingung. Walaupun Satelllite telah meghiburnya tapi Kesulitan yang ia hadapi membuatnya menjadi  pemarah, pembenci anaknya itu, pemurung, dan putus asa. Suasana terbalik, disaat masyarakat Kurdi memulai lembar baru dan menyambut jatuhnya Saddam, dengan suka-ria mendapatkan souvenir potongan patung-Saddam di ibukota yang dijatuhkan tentara Amerika. Agrin  malah berusaha membunuh anaknya dengan nekat meletakan Rega diantara ranjau darat dan kemudian ia bunuh-diri. Satellite yang mengetahui bahwa Rega dalam bahaya berusaha menyelamatkannya dan nekat berjalan diantara ranjau darat yang aktif, adegan ini menyentak sekali, membuat para penonton tidak tahan dengan tragedi keduanya yang ditampilkan, Rega pun harus berujung pada maut walaupun Satellite selamat tetapi kakinya tak bisa diselamatkan . Akhir kisah itu sungguh mendendangkan nyanyian yang paling memilukan dan menyayat hati.

Bhaman Ghobadi's 'Turtles Can Fly' cukup menggambarkan kejadian sejarah secara instant yang merupakan one 'of the best films ever made about children in wartime' (istilah kerennya~^). Aduh pokoknya sedih banget dewh ni film, semoga kalian semua bisa nonton film ini dan merasakan hal yang sama kaya aku. Selamat menonton!!!!!!^^

Sources :
www.apakabar.ws


2 komentar: